‘PERANG’ DUA PETAHANA DI UJUNG PENGABDIAN
Dua petahana, masing-masingnya Irzal Ilyas Dt Lawik Basa (Walikota Solok) dan Zul Elfian SH M.Si (Wawako Solok), sudah sama-sama menyatakan komitmennya untuk bertarung memperebutkan kursi panas BA 1 P pada Pilkada Kota Solok 2015 mendatang.
Tak terasa, rentang lima tahun perjalanan kepemimpinan mereka yang dibangun dengan semangat kejujuran dan kebersamaan, dalam waktu dekat akan segera berakhir dengan ‘peperangan’.
Hampir lima tahun seiring sejalan, seiya sekata dalam membangun Kota Solok dan telah menorehkan beragam prestasi yang tak dapat dipandang sebelah mata. Maka sangat wajar kalau masyarakat banyak berharap pasangan bareh solok ini akan berlanjut lima tahun kedepan.
Namun sangat disayangkan undang undang Pilkada yang sering berubah-ubah membuat harapan masyarakat Kota Solok hilang begitu saja. Perppu No 1 tahun 2014 mengamanatkan kota yang yang jumlah penduduknya kurang dari 250.000 jiwa, kepala daerahnya tidak lagi berpasangan dan Kota Solok termasuk dalam ketegori ini.
Pasangan yang sempat digadang-gadang sebagai pasangan anti pecah ini, tak pernah mengenal lelah menyelenggarakan tata pemerintahan yang baik dan bersih. Usaha tak kenal lelah itu ternyata membuahkan hasil. Kota Solok meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Kementrian Keuangan pada tahun 2013.
Lewat tangan dingin pasangan ini pulalah Kota Solok meraih beragam penghargaan tingkat nasional. Kota beras ini meraih Piala Adipura tiga tahun berturut turut yaitu tahun 2011,2012 dan 2013. Begitu juga dengan Piala Wahana Tata Nugraha, Kota Solok meraihnya secara berturut-turut pada tahun 2010, 2011, 2012, 2013 dan 2014.
Selama kepemimpinan Irzal Ilyas dan Zul Elfian, Kota Solok juga memperoleh penghargaan sebagai kota sehat, meraih penghargaan Kesatria Bhakti Husada,ICT Pura, Cipta Karya dari Kementrian PU, Adiwiyata dan puluhan penghargaan lainnya.
Disamping meraih beragam penghargaan, pasangan petahana ini juga berhasil menyelesaikan pembangunan Masjid Agung Al Muhsinin, pembangunan jalan lingkar luar utara,pembangunan sport hall Tanjung Paku dan pasar semi modern.
Kerena pasangan bareh solok ini sama sama berkeinginan untuk melanjutkan pembangunan, maka mau tak mau, suka tak suka, mereka terpaksa berpisah di ujung pengabdian dan harus saling berhadapan pada Pilkada serentak 2015.
Semanis apupun perpisahan, tetap saja menyakitkan. Perpisahan secara baik baik penuh dengan keiklasan itu akhirnya menimbulkan perbedaan pandangan. Prestasi yang telah mereka raih bersama akhirnya dimaknai berbeda.
Irzal Ilyas masih menganggap berbagai penghargaan sebagai bukti keberhasilan. Sementara Zul Elfian memandang penghargaan bukanlah tujuan. Bahkan penghargaan itu akan membuat kita terlena dan tanpa disadari kita sudah jauh tertinggal dari yang lain.
Sekalipun memiliki pandangan berbeda tentang prestasi yang telah mereka raih, namun mereka masih memiliki kesamaan pandangan tentang tantangan masa depan. Keduanya sama-sama punya keinginan untuk membenahi Terminal Bareh Solok yang sudah hampir lima belas tahun tak berfungsi secara normal. Mereka juga memandang pembangunan gelanggang olah raga sebagai kebutuhan mendesak.
Dengan adanya kesamaan pandangan tentang tanyangan Kota Solok ke depan, ini membuktikan mereka masih punya kesempatan untuk maju bersama. Kemungkinan itu terbuka lebar karena Perppu No 2 tahun 2014 kembali memberikan kesempatan kepada seluruh calon kepala daerah untuk maju berpasangan. Apalagi saat ini, baik Irzal Ilyas maupun Zul Elfian sama-sama belum memiliki pasangan.
Tokoh adat Enam Suku, Hendra Dt Bandaro menilai, banyak kemajuan yang telah dicapai selama kepemimpinan Irzal Ilyas dan Zul Elfian. Pertumbuhan ekonomi meningkat secara signifikan, pembangunan infrastruktur berjalan dengan baik dan keduanya dekat dengan masyarakat. “Secara umum pasangan ini cukup berhasil, akan tetapi bukan berarti tak punya kelemahan,” kata Hendra Dt Bandaro.
Menurutnya, pasangan ini dinilai gagal membenahi terminal Bareh Solok dan menghapus terminal bayangan. Padahal salah satu janji kampanye Irzal Ilyas dan Zul Elfian lima tahun lalu adalah membasmi terminal bayangan dan membenahi terminal Bareh Solok.
Sementara itu tokoh masyarakat Kota Solok lainnya, Yoserizal Dt Rajo Mampang SH mengatakan, kegagalan membenahi terminal bareh Solok tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai kegagalan Irzal Ilyas dan Zul Elfian. Menurutnya, tidak hanya Irzal Ilyas dan Zul Elfian saja yang gagal membenahi terminal Bareh Solok itu, walikota sebelumnya seperti Yumler Lahar dan Syamsu Rahim juga gagal membenahinya.
“Ibarat nasi sudah jadi bubur, sekarang bagaimana caranya nasi itu supaya enak dimakan. Kalau terminal itu sudah tiga walikota gagal menjadikannya sebagai terminal, sekarang bagaimana caranya lokasi terminal itu mendatangkan manfaat bagi warga,” tukas Yoserizal. (*)
sumber: http://www.harianhaluan.com/index.php/feature/39170-perang-dua-petahana-di-ujung-pengabdian
DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi Anda membantu Admin untuk lebih giat lagi dalam membagikan template blog yang berkualitas. Terima kasih.
Newer Posts
Newer Posts
Older Posts
Older Posts
MeeTheme
Comments